for a change

random acts and thoughts in a journey for a change

Kebijakan Ramah Keluarga? February 23, 2008

Filed under: children, real world — agastyacandrawan @ 11:30 pm

Sudah sejak lama saya begitu tertarik dengan Family-Friendly Policy atau Work/Life Policy. Apa yaa kira-kira terjemahan yang tepat?mungkin judul diatas kurang tepat, tapi intinya family-friendly policy atau work/life policy adalah kebijakan negara atau perusahaan yang mendukung pegawai mereka (terutama perempuan) untuk dapat bekerja atau berkarir dan membentuk keluarga tanpa harus mengorbankan satu atau yang lainnya.

Family-friendly policy bukan sesuatu yang baru, terutama bagi negara-negara industri di Eropa, Swedia dan Denmark adalah beberapa negara pelopor. Banyak perusahaan-perusahaan multinational juga telah menerapkan policy ini, banyak diantaranya di Indonesia. Bentuk dari kebijakan ini bisa berupa part-time work, shared responsibility, flextime, dan cuti melahirkan atau cuti mengasuh anak baik untuk perempuan maupun laki-laki. Program pendukungnya juga beragam seperti support group, konseling untuk orangtua, atau tempat penitipan anak di tempat.

Di banyak negara industri, orangtua menjadi pengasuh utama anak. Tidak banyak dari mereka yang mampu membayar nanny, babysitter, atau si mbak. Umumnya mereka juga tidak bisa menitipkan bayi atau anak mereka kepada kakek-nenek atau keluarga lainnya. Daycare adalah tempat dimana anak-anak dititipkan (minimal setelah berusia 2 minggu). Dengan pemikiran bahwa orangtua sangat berperan penting dalam mengasuh anak, terutama bayi sampai dengan usia balita, kebijakan-kebijakan ini dinilai penting dan bermanfaat baik bagi orangtua maupun perusahaan.

Keadaan di Indonesia cukup berbeda. Sambil masih berpikir, kira-kira kebijakan dan dukungan seperti apa yaa yang dibutuhkan oleh orangtua bekerja di Indonesia?mungkinkah bentuk kebijakan yang sama akan bermanfaat bagi mereka?

Saya yakin bahwa para ayah dan ibu kelas menengah ke atas di Jakarta merasa miris setiap kali meninggalkan anak mereka dengan babysitter untuk bekerja dan mungkin hanya punya waktu di weekend untuk keluarga. Banyak dari ibu-ibu muda yang berhenti bekerja dan memilih untuk menjadi full-time mom. Mungkin akan ada yang berargumen bahwa keputusan itu adalah panggilan jiwa dan bukan karena tidak adanya kebijakan pendukung, tapi saya rasa ada juga yang memang tak punya banyak pilihan atau mereka yang tetap bekerja kadang dibebani stress untuk membagi antara karir dan keluarga.

Kehadiran pengasuh seperti nanny atau babysitter kemudian menjadi alternatif. Banyak nanny atau babysitter yang memang telah terlatih, tapi tentunya begitu banyak dari mereka yang kurang memahami tumbuh kembang anak dan kebutuhan mereka. Memang tak berarti bahwa anak-anak yang menghabiskan lebih banyak waktu dengan pengasuh mereka ini mengalami hambatan dalam perkembangan mereka. Secara rasional, anak yang berkembang dalam kondisi yang kondusif (adanya rangsangan, pengasuh yang berkomunikasi secara positif) dibandingkan dengan anak yang berkembang tanpa rangsangan positif, siapa yang kira-kira akan berkembang maksimal?

Sekolah kemudian memikul beban yang berat, menjadi pendidik utama. Memasukkan anak ke sekolah terbaik kemudian diharapkan dapat membantu orangtua bekerja untuk mendidik anak. Ini memang tidak salah, tetapi sekolah saja tidak cukup. Begitu banyak mainan edukatif jika tidak dimanfaatkan dengan tepatpun mungkin tidak akan maksimal manfaatnya.

Dari keadaan di atas, kebijakan apa yang dibutuhkan oleh Indonesia?Memfokuskan pada kelas menengah ke atas di kota-kota besar, flextime mungkin dapat diterapkan, dimana pegawai hanya perlu hadir di kantor beberapa hari dalam satu minggu. Kemungkinan untuk bekerja dirumah dengan bantuan tehnologi juga dapat menjadi pilihan. Orangtua tentunya butuh strategi, bagaimana memaksimalkan quality time dengan anak, membagi tips dan juga mungkin stress mereka. Support group atau hanya sekedar buletin kantor yang dikirim via email dapat memberikan informasi-informasi tersebut. Jika si mbak memang sangat dibutuhkan, maka mereka pun dapat dilatih dengan ketrampilan dan pengetahuan dasar. Bagi kelas menengah kebawah, community childcare juga dapat menjadi alternatif (di lain waktu yaa akan saya share konsep ini).

Yang terpenting adalah kesadaran dari pemerintah dan perusahaan akan pentingnya kebijakan -kebijakan ini. Orangtua bekerja sebagai pemeran utama bisa mencoba untuk menyuarakan ini kepada perusahaan. Sekolah pun mungkin dapat membantu mengadvokasi. Saya terutama mendukung orangtua bekerja untuk bekerjasama dan mungkin mulai menyuarakan pentingnya kebutuhan ini. Memulai dan mencoba tidak ada salahnya, siapa tahu bisa membawa perubahan positif terutama bagi anak-anak kita sendiri (meskipun harus extra sabar menunggu perubahan). Saya juga ingin membantu :) . Sampaikan ide ini dan kembangkan juga, jangan lupa untuk berbagi disini.

 

3 Responses to “Kebijakan Ramah Keluarga?”

  1. hery fuad Says:

    Mbak Tya, pemikiran seperti yang anda kemukakan memang mestinya telah dipikirkan oleh negara kita, saya tahu beberapa kantor telah melakukan policy tersebut.

    Barangkali pavilion95 juga sudah harus dapat melihat dng cermat adanya perkembangan ini. Memang masih agak sulit diterapkan , karena perusahaan ini belum berkembang dengan baik sistemnya, mudah2an ke depan kami bisa mengembangkan kantor yang sangat memperhatikan ibu dan anak , serta keluarga sebagai asset yang sangat berharga bagi kemajuan dan kesejahteraan perusahaan.

    salam , hery

  2. Pak Hery, tentunya rencananya saya dukung, kalau perlu konsultasi boleh juga :) . Oya, jangan hanya ibu dan anak saja, ayah juga harus berperan dounk :)

  3. ibunya imam Says:

    dukung ! dukung ! dukung ! coba ada yang list perusahaan ramah ibu ya . atau adain award bagi perusahaan ramah ibu, kaitkan juga dengan prestasi perusahaan itu, wah oke tuh ! ayo !!!!


Leave a Reply